Cara Analisis Fundamental Saham bagi Pemula

analisa fundamental saham

Bab kelima, Materi ini memberikan pengetahuan tentang cara menganalisa perusahaan secara fundamental berdasarkan laporan keuanganya. Selamat Belajar,..

Anda yang baru memulai berinvestasi di bursa saham pasti kebingungan bagaimana membaca dan menganalisa sebuah perusahaan apakah berkinerja baik atau tidak.

MSI akan mengajarkan kepada kalian cara menganalisa sebuah saham secara fundamental, cara ini diturunkan turun temurun oleh seorang master yaitu Lo Kheng Hong dan Warren Buffet.

Hal fundamental yang mempengaruhi saham perusahaan ada banyak faktor, yaitu Ekonomi Makro, Ekonomi Mikro, Analisa Sektor Industri, Berita keadaan perusahaan dan masih banyak lagi. Akan kami kupas satu persatu dibawah ini.

Tapi MSI mewajibkan anda berfokus pada anailsa Ekonomi Mikro dulu saja, kenapa demikian ? simak dibawah ini jangan putus membaca sampai akhir.

Faktor Ekonomi Makro

Tentunya anda harus memperhatikan Ekonomi Makro yang sangat berpengaruh pada pergerakan harga saham, anda dapat mengetahui melalui berita-berita internasional.

Seperti issue baru-baru ini adalah resesi perang dagang Amerika Serikat dengan China tahun 2019 yang mengakibatkan Harga di semua sektor saham turun.

Disaat seperti ini sebaiknya anda tidak melakukan investasi terlebih dahulu menunggu Resesi ini berakhir atau menunjukan sinyal damai.

Contoh lain adalah ketika banyak negara muslim berbondong-bondong membuang dolar dan menukar dengan Emas Dinar dan Dirham sebagai alat tukar pengganti Uang.

Saat itulah anda mulai harus memperhatikan Perusahaan sektor Pertambangan Emas, karena kemungkinan akan Naik harga sahamnya.

Selain itu berita-berita perekonomian dari dalam negeri juga perlu diperhatikan, seperti pidato Presiden Jokowidodo di tahun 2019 menyebutkan Pajak Kertas harus di hapuskan.

Setelah itu keesokan hari perusahaan kertas seperti INKP harganya melonjak naik sangat tinggi hingga 20%, Itulah salah satu pentingnya menganalisis saham dari segi Ekonomi Makro, intinya selalu update berita ekonomi, politik dan semua yang bersangkutan dengan kegiatan ekonomi, lama-kelamaan insting anda akan terlatih dan tahu harus take action apa.

Jadi faktor ekonomi makro memang susah di pelajari karena tidak pasti, bagaimana untuk bisa mempelajari ? bacalah selalu berita-berita terupdate, dan asah instingmu apakah berita tersebut memberikan efek kepada pasar saham.

Dulu MSI juga bingung, tetapi karena sudah lama terjun di pasar saham jadi mengerti dan instingnya otomatis terbentuk, asalkan mau belajar terus.

Faktor Sektor Industri

Anda sebagai calon Investor juga harus memperhatikan sektor industri perusahaan yang akan anda invest. Karena fluktuatif harga di beberapa sektor berbeda, seperti sektor konsumer harga akan cenderung naik menjelang awal akhir tahun dan awal tahun, serta akan naik kembali menjelang hari raya idul fitri.

Selain itu pada sektor konstruksi juga mempunyai pola dan perilaku harga yang berbeda, sedangkan pada sektor perbankan harga cenderung naik terus dari waktu ke waktu, walaupun tidak signifikan tetapi cenderung akan naik terus.

Faktor Index Saham juga sangat perlu diperhatikan, seperti index LQ45 yang selalu naik, Namun walaupun saham ini selalu naik pasti akan ada masanya downtrend juga. Nah anda harus waspada, lebih baik cermati terlebih dahulu bulan-bulan apa saham-saham ini harganya akan naik, dan turun.

Untuk mempelajari faktor sektor industri, setidaknya sebelum investasi anda mempelajari dan membaca pola naik turun nya harga, misalnya MSI ingin investasi ke saham BBRI, setidaknya MSI membaca dahulu bulan-bulan apa BBRI ini pada fase uptrend, atau downtrend.

Saat BBRI ternyata pada fase uptrend dan harganya sudah terlanjut mahal, maka tunggulah dahulu saat-saat fase Downtrend nya, barulah berinvestasi.

Ini merupakan teknik untuk menentukan momentum kapan harus investasi.

Faktor Ekonomi Mikro

Anda harus mulai lebih fokus pada chapter ini, karana hal fundamental ada pada ekonomi mikro perusahaan itu sendiri

Faktor Ekonomi mikro ini melekat pada perusahaan itu sendiri, cara menganalisanya menggunakan laporan keuangan perusahaan secara periodik. Beberapa acuan yang digunakan untuk menganalisa ekonomi mikro perusahaan adalah sebagai berikut :

  • Apakah asset perusahaan selalu naik dari tahun ke tahun ?
  • Apakah laba perusahaan selalu naik ?
  • Apakah dapat mengurangi beban perusahaan, minimal tidak menambah beban perusahaan ?
  • Bagaimana harga saham dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan sejenis ?
  • Apakah harga saham saat ini tergolong murah atau mahal ?
  • Bagaimana liabilitas / kewajiban perusahaan ?

Untuk bisa menilai perusahaan berdasarkan point-point diatas, anda harus melihat LAPORAN KEUANGAN perusahaan itu sendiri.

Terkait Ekonomi Makro, Sektor Industri nanti dulu, ilmu ini bisa anda dapatkan secara otomatis jika insting anda sebagai investor sudah terbentuk.

Jadi FOKUSLAH KEPADA EKONOMI MIKRO DAHULU..!! Bagaimana caranya ?

Untungnya MSI sudah punya cara-caranya yang bisa anda baca di bawah ini.

1. EPS (Earning Per Share) 

Informasi mengenai ratio ini penting karena ratio ini memberikan informasi kepada investor terkait laba per lembar saham yang bisa diperoleh oleh investor. Ratio ini diukur dengan cara membandingkan laba bersih dikurangi pajak dan deviden dengan jumlah saham yang beredar : 

EPS = (laba bersih – pajak – deviden )/ jumlah saham yang beredar. 

Apabila EPS nya besar maka itu berarti laba yang bisa dihasilkan saham tersebut juga besar. 

Contoh kasus : Sebuah perusahaan memperoleh laba bersih pada akhir tahun sebesar 100 juta, kemudian kebijakan menajemen akan membagikan deviden sebesar 40 juta, sedangkan untuk total saham yang beredar pada saat itu adalah sebesar 1 juta 

Sehingga EPS dari perusahaan tersebut adalah 

1M – 400 juta / 8 juta = Rp. 75 

Angka tersebut menunjukan bahwa investor akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 75 dari setiap lembar saham yang dimiliki.

2. PER (Price Earning Ratio)

Ratio price earning ratio bisa kita ketahui dengan cara menbandingkan harga saham sekarang dengan laba bersih perusahaan per lembar saham. 

Dengan mengetahui nilai price earning ratio, maka kita bisa mengetahui apakah nilai perusahaan tersebut masih wajar dan sesuai dengan harga pasar saham, di sektor industri yang sama. 

Contoh kasus : harga saham di salah satu perusahaan batu bara (PT A) Rp. 700, sedangkan harga saham di perusahaan batu bara lainnya sudah berkisar antara Rp.710 sampai dengan Rp.750. Per dari saham PT A tersebut masih tergolong rendah sehingga layak untuk dibeli. 

Nilai PER yang rendah biasanya akan menarik para investor karena, harga saham tersebut masih murah sehingga kemungkinan mengalami kenaikan harga masih tinggi. Sebaliknya untuk saham 

yang nilai PER nya sudah tinggi biasanya investor tidak tertarik karena harga saham nya sudah tinggi, kemungkinan harga bisa naik lagi pasti akan menjadi lebih kecil.

3. ROE (Return of Equity)

Return of equity menggambarkan kemampuan dari tim manajemen sebuah perusahaan untuk menghasilkan laba dari jumlah dana yang sudah diinvestasikan investor.

Semakin tinggi ROE sebuah perusahaan, hal tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut dalam kondisi yang sehat dan mampu memberikan keuntungan yang maksimal untuk para investornya. Lalu bagaimana cara menghitung ROE ? Berikut penjabarannya : 

a. Hitung total ekuitas (total aset – total liabilitas) 

Contoh : sebuah perusahaan memiliki aset total 1 M dan liabititas sebesar 400 juta. Maka total ekuitasnya adalah = 1 M – 400 juta = 600 juta 

b. Cari nilai laba bersih perusahaan. Angka tersebut bisa kita ketahui dari laporan keuangan 

perusahaan : Misalnya laba bersih perusahaan 400 juta c. Maka nilai ROE dari perusahaan tersebut adalah sebesar 600 juta dibagi 400 sama dengan 1,5 atau setaras denga 150 %. Angka 150% ini menunjukan bahwa perusahaan tersebut bisa menghasilkan 150% laba dari setiap lembar saham yang diinvestasikan oleh investor.

4. DER (Debt to Equity Ratio)

Ratio ini berguna untuk mengukur berapa nilai hutang yang bisa digunakan oleh perusahaan agar kondisi perusahaan tetap stabil. Seperti bisnis lainnya tentu perusahaan terkadang membutuhkan hutang guna mengembangkan bisnisnya.

Dengan ratio ini lah kita mengukur seberapa tingkat hutang yang masih wajar bagi perusahaan. Ratio tersebut bisa kita ketahui dengan membandingkan total hutang dengan total ekuitas.

Apabila ratio DER sebuah perusahaan tinggi berarti perusahaan tersebut memiliki hutang yang lebih besar daripada ekuitas dan hal tersebut tidak baik, sebaliknya apabila DER nya kecil berarti nilai hutang masih berada di angka yang wajar. 

Perusahaan yang memiliki DER yang tinggi biasanya juga sangat jarang membagikan deviden kepada para investornya.

Hal ini disebabkan karena keuntungan yang diperoleh akan sangat kecil, sehingga budget yang bisa digunakan untuk membagi bagikan deviden kepada investor juga akan sangat kecil.

Maka itulah alasan mengapa sangat tidak disarankan untuk membeli saham yang nilai DER nya terlalu tinggi.

5. Price to Book Value ( PBV)

Bapak investor dunia Warrent Buffet pernah berkata bahwa PBV adalah salah satu indikator yang bisa digunaka untuk menilai sebuah perusahaan dan kelayakan dari saham sahamnya. 

Price to Book Value menunjukan ratio harga terhadap terhadap nilai buku, sehingga kita bisa mengetahui apakah harga saham tersebut terlalu mahal atau sudah cukup murah.

Ratio ini bisa kita ketahui dengan cara membandingkan harga per lembar saham dengan nilai buku atau book value, dimana book value bisa kita peroleh dengan membandingkan antara nilai ekuitas dengan jumlah lembar saham yang tersedia.

Book value sendiri merupakan modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan. Nilai ini biasanya dicantumkan di bagian sisi aktiva dalam neraca keuangan sebuah 

perusahaan. Cara untuk menghitung book value sendiri adalah dengan membagikan nilai ekuitas dengan jumlah lembar saham yang beredar. Atau bisa juga dihitung dengan cara mengurangkan asset dengan utang.

Sebagai seorang investor tentu kita ingin mendapatkan saham dengan nilai buku yang rendah atau murah, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan karena terkadang ada perusahaan yang memiliki nilai buku yang tinggi dan semakin hari harga sahamnya justru semakin tinggi.

Sebaliknya ada saham yang nilai buku nya rendah dan semakin hari nilai nya justru semakin rendah. 

Kesimpulannya adalah sebagai seorang investor yang ingin membeli saham dari sebuah perusahaan, kita harus memiliki kemampuan meramu dan menggabungkan semua angka ratio tersebut sehingga tercipta sebuah ramuan dan pola yang membuat kita yakin dengan saham yang akan kita beli.

Jadi menurut MSI bagi anda yang pemula fokuslah terlebih dahulu pada Ekonomi Mikro perusahaan itu sendiri. Anda harus bisa mengukur seberapa profitkah perusahaan itu, seperti point-point diatas.

You Might Also Like

3 Replies to “Cara Analisis Fundamental Saham bagi Pemula”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *